Syukur Alhamdulillah, salah satu postingan Blog Sing Biasane bisa muncul di media lain dan bisa dinikmati oleh teman-teman yang memang belum pernah mengunjungi. Secara disengaja rizalarable mengirim tulisan ke sebuah majalah yang dikelola Perusahaan, dan ternyata tulisan yang diambil dari Blog Sing Biasane itu diakui dan muncul di salah satu halamannya. Setelah pernah muncul di salah satu koran di Pekanbaru, kini pencarian pengakuan itupun berlanjut.
Pages
Blog Paling Biasa dari yang Biasa Aja
Tampilkan postingan dengan label main. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label main. Tampilkan semua postingan
Minggu, 03 Juli 2011
Postinganku Diakui (Lagi)
Minggu, 26 Juni 2011
Aku Masih Jalan-Jalan
Whooaaa…capek juga nih. Why? Why? Why? Sudah beberapa minggu ini rizalarable ‘berjalan-jalan’ di beberapa blog, lumayan dapat pengetahuan, pencerahan baru dan pastinya cukup mengobati rasa bosan blogging saya. Memperhatikan dari blog-blog yang saya kunjungi, beberapa Blog memilih pure menceritakan tentang dirinya dan pengalamannya. Ada beberapa macam sih, salah satunya ya seperti Blog Sing Biasane ini – kalau yang satu ini cuma Blog Paling Biasa dari yang Biasa aja.
Nah saya terinspirasi Blog yang menceritakan pengalaman pribadinya, menceritakan sesuatu dari sudut pandangnya atau menceritakan orang-orang sekitarnya. Jadi pengen sebenarnya mengikuti mereka, sebenarnya hampir sama dengan yang rizalarable lakukan selama ini : membahas pengalamannya – walaupun dengan cara yang ringan. Tapi bisa jadi hal ini kadang gak menarik minat pembaca, karena saya nih siapa? ada yang kenal gak ya?.Kalau saya nih artis, atlet, pejabat, sosialita, pasti apa yang dilakukan menarik para pembaca.
Ini saya berikan hasil jalan-jalan ke beberapa blog:
Minggu, 29 Mei 2011
Sekali Dayung, Dua Tiga Pulau Terlampaui
Judul diatas saya ambil karena kali ini saya akan menulis mengenai pengalaman menikmati Indomie, tahu kan Indomie? salah satu produk asli Indonesia buatan Indofood, yang telah menjadi ‘makanan pokok’ masyarakat Indonesia dan berhasil mendunia dengan menggunakan brand yang sama.
Nah pengalaman saya ini akan saya tuangkan di Blog Sing Biasane dan akan saya kirim ke kompetisi cerita indomie. Mudah-mudahan pengunjung BSB menyukai (bukan mie nya lho) dan juri dari Indofood juga. So satu kali dayung, dua tiga pulau terlampaui……
Di keluarga kami indomie atau mie instant merk lain lah [tahun 90’an masih di dominasi indomie juga], menjadi makanan/ lauk alternatif jika memang Ibu tidak memasak. Kami adalah salah satu keluarga di Indonesia yang menikmati mie instant sebagai lauk untuk menemani nasi, jadi 1 bungkus mie instant biasa kita nikmati berdua atau bertiga.
Ternyata setalah remaja pemahaman saya nih kelihatannya salah, karena mie instan sebenarnya dinikmati hanya mie saja.
Mie Goreng Kuah
Maklum, keluarga kami dulu bukan termasuk keluarga yang menengah ke atas, jadi untuk mie instan, martabak, bakso dan nasi goreng pun menjadi ‘lauk’. Dulu mie instant yang masih sering kita nikmati adalah mie goreng, sedangkan mie kuah jarang disediakan oleh ibu.
Nah karena stok kami nih memang mie goreng saja, saat kami ingin menikmati mie kuah. Ibu dengan ‘pede’ nya mengolah mie goreng - yang dihidangkan menjadi mie kuah. Alakazam!.... gimana nih, saat pertama kali ‘produk ini di launching’ kami sempet protes “kok mie goreng di kasih kuah?”, “udah makan aja!” jawab ibu. Ternyata kenikmatan rasanya gak masalah juga, malah ada rasa baru yang bisa kita dapat dari indomie goreng.
Nah pengalaman saya ini akan saya tuangkan di Blog Sing Biasane dan akan saya kirim ke kompetisi cerita indomie. Mudah-mudahan pengunjung BSB menyukai (bukan mie nya lho) dan juri dari Indofood juga. So satu kali dayung, dua tiga pulau terlampaui……
Di keluarga kami indomie atau mie instant merk lain lah [tahun 90’an masih di dominasi indomie juga], menjadi makanan/ lauk alternatif jika memang Ibu tidak memasak. Kami adalah salah satu keluarga di Indonesia yang menikmati mie instant sebagai lauk untuk menemani nasi, jadi 1 bungkus mie instant biasa kita nikmati berdua atau bertiga. Ternyata setalah remaja pemahaman saya nih kelihatannya salah, karena mie instan sebenarnya dinikmati hanya mie saja.
Mie Goreng Kuah
Maklum, keluarga kami dulu bukan termasuk keluarga yang menengah ke atas, jadi untuk mie instan, martabak, bakso dan nasi goreng pun menjadi ‘lauk’. Dulu mie instant yang masih sering kita nikmati adalah mie goreng, sedangkan mie kuah jarang disediakan oleh ibu.
Nah karena stok kami nih memang mie goreng saja, saat kami ingin menikmati mie kuah. Ibu dengan ‘pede’ nya mengolah mie goreng - yang dihidangkan menjadi mie kuah. Alakazam!.... gimana nih, saat pertama kali ‘produk ini di launching’ kami sempet protes “kok mie goreng di kasih kuah?”, “udah makan aja!” jawab ibu. Ternyata kenikmatan rasanya gak masalah juga, malah ada rasa baru yang bisa kita dapat dari indomie goreng.
Minggu, 22 Mei 2011
Bosan Blogging!
Ya ampuun lama banget ya gak ketemu dan update postingan rizalarable, ya jelas lah……udah 2 minggu gak posting. Napa gitu? Biar aja, ini salah satu percakapan anak-anak di tempat saya. Kalau ditanya kenapa ya kok gak posting: yang pertama pastinya males, jenuh dan hanya sedikit perubahan.
Sebenarnya ini bukan pertama kali saya gak posting, di hari minggu ke 3 Maret yaitu setelah postingan Nggak Usah Repot untuk Bisa Expert, tapi yang sekarang ini sampe 2 minggu gak posting, muales tenan apalagi beberapa problem klasik muncul di pekerjaan saya. Mulai dari masalah stock, pencapaian dan tim saya yang berkurang karena ingin berkarier di tempat lain…huuhmphss. Hidup terus berjalan, harusnya ;;;; tapi saya memilih untuk mengikuti masalah itu dan menjadi males. Males, itulah yang utama namun 'otak kita yang gede ini' berusaha memberi masukan lain yang mengatakan bahwa saya jenuh/ bosan. Bener loh, lama-lama kayak gini bosen juga: tiap minggu nulis dan nulis dan nulis. Tapi kenapa penulis berita tidak pernah bosan ya???? He he saya tahu, karena mereka dibayar - ada yang dia dapatkan dari aktivitasnya dan itu berbanding lurus dengan apa yang dia usahakan. Tapi kalau aktivitas update/ posting Blog Sing Biasane..hasilnya sampe sekarang~~~ sedikit. Beberapa pengakuan , dukungan dan semangat memang muncul dari teman-teman. Dan sebenarnya hal itu membuat saya senang dan bangga, bukankah knowing and sharing itu hal yang baik. Gitu donk!!
Minggu, 24 April 2011
Flying like a Bird or Walk like a Worm : Part 2
Hei hei jumpa lagi di Blog Sing Biasane, melanjutkan tema minggu sebelumnya tentang flying like a bird and walk like a worm. Udah baca gak nih? Silahkan menuju ke Part 1, kalau sudah – yuk kita menuju ke cara berjalannya cacing. Hal inilah yang dilakukan oleh Muhammad Yunus saat proses pendirian Grameen Bank di Bangladesh, Bank yang didirikan khusus bagi kaum papa yang memberikan pinjaman tanpa jaminan.
Konsep ini menurut saya cukup bagus dan kenyataannya yang Anda tidak sadari, hal ini sudah Anda lakukan. Coba Anda perhatikan yang lakukan sekarang, Ya…. Aktivitas/ pekerjaan yang Anda lakukan setiap harinya. Pasti Anda telah melakukan berulang kali dan pastinya kemampuan melakukannya sudah diluar kepala. Dibanding orang lain Anda akan lebih menguasai aktivitas itu, Anda mengetahui lebih detil dan hasilnya juga sudah barang tentu baik pula.
Minggu, 17 April 2011
Flying like a Bird or Walk like a Worm : Part 1
Lagi lagi Blog Sing Biasane memberikan posting pilihan, setelah Berlian dan Tanah Liat kini rizalarable menuliskan ‘Terbang seperti Burung atau Berjalan seperti Cacing’. Saya terinspirasi dari membaca buku Re Code Your Change DNA oleh Rheinal,d Khasali, yang di salah satu Bab membahas mengenai Muhammad Yunus - beliau adalah tidak lain dan tidak bukan pendiri dari Grameen Bank – yaitu Bank yang dikhusukan bagi kaum papa di wilayah Bangladesh .
Duh duh….Juara bener nih kata – kata M’Yunus, apalagi bagi kita yang sering membaca, mendengar atau bahkan melakukan pekerjaan (kehidupan) dengan metode ‘Helicopter View’. Nih apalagi? ‘Helicopter View’, ini sama saja dengan pola pikir seekor burung. Bisa melihat banyak hal dari atas, sehingga seekor burung bisa dengan mudah mencari ‘solusi’ makanan/ kehidupannya.
Minggu, 10 April 2011
Postinganku Diakui
Waow, mantap man! Baru kali tulisan saya dimuat di media massa (koran), salah satu postingan di Blog Sing Biasane tampil di Tribun Pekanbaru. Gak nyangka bener, tulisan yang saya daftarkan ke Tribun Pekanbaru via Blogger Bertuah ternyata di terbitkan juga.
Walaupun ada editan disana sini, termasuk judulnya juga diganti dari Tidak ada Ruh Diantara Mereka mejadi 'Tegur Sapa itu Budaya Membangagakan' tapi gak masalah. Yang penting gak mengurangi maksud dan tujuan dari tulisan ini. Blogger nih biasanya cari judul yang hot dan menarik untuk dibaca, dan isinya juga apa yang ada di pikiran si blogger tanpa melewati proses editing oleh orang lain.
Prestasi di bidang tulis menulis paling tinggi, selama saya hidup adalah ada di salah satu bulletin Jumat di Masjid dekat Kampus. Beberapa kali tulisan saya hadir di salah satu minggu Bulletin Muhajirin, itu aja sudah lega banget. Sampe akhirnya saya diberi kepercayaan untuk menjadi Ketua Redaksi Bulletin Muhajirin, lha kalo gini nama saya nampang terus tiap minggunya-nulis gak nulis nama saya tetap nampang tiap minggunya.
Dengan kemunculan di Tribun, semangat saya lumayan bertambah. Semangat menulis, semangat membaca dan semangat posting tentunya. Mengabarkan kepada banyak orang apa yang saya ketahui dan pelajari, bahasa inggrisnya “ know it and share it”.
Minggu, 03 April 2011
Sebangsa tapi tidak Merasa
Tidak merasa apaan nih? Gak jelas banget sih. Kalo Jelas ntar malah gak baca donk..He he - maksudnya tuh, ya Tidak Merasa Sebangsa lah. Saya terinspirasi untuk menulis Judul di atas setelah membaca buku ‘The Journey of a Muslim Traveler’ yang ditulus oleh Mas Heru Susetyo. Buku terbitan Tahun 2009 dari Lingkar Pena ini saya dapat dengan harga yang cukup bagus, lha wong beli pas ada obral. Walaupun belum habis bacanya, tapi saya gak tahan untuk membaginya kepada pengunjung Blog Sing Biasane.
Dalam buku ini, penulis mengisahkan bahwa disalah satu kunjunganya di Thailand, tepatnya di kota Pattani, provinsi Patani, Thailand Selatan. Kalau kita liat di Peta Dunia, Thailand Selatan berbatasan langsung dengan Malaysia. Sehingga budaya Melayu lebih kental daripada budaya Thai itu sendiri, misalnya mereka sangat menyukai lagu dan film Malaysia serta Indonesia. Bahasapun mereka lebih sering menggunakan bahasa Melayu, pakaian yang dikenakan serta penganut agama Islam banyak bertebaran di Pattani.
Sebenarnya penduduk Pattani lebih mirip orang Melayu, berbeda dengan penduduk Thailand pada umumnya yg bersuku Thai, karena sebenarnya mereka adalah keturunan Melayu. Bergabungnya tiga provinsi di selatan Thailand (Pattani, Yala dan Narathiwat) adalah kehendak dari Inggris dan Kerajaan Siam melalui perjanjian pada tahun 1909. Yang sama sekali tidak mendengarkan suara rakyat di tiga provinsi tersebut. Siam itu menjajah tiga provinsi di selatan Thailand sampai kini, dan jangan sebut kami orang Thai atau Muslim Thai. Kami adalah Melayu Muslim Pattani.
Minggu, 20 Februari 2011
Berlian dan Tanah Liat
Di postingan kali ini rizalarable memberikan cerita lama tentang pilihan, tulisan ini sebenarnya sudah lama tersimpan di ‘brankas’ salah satu folder pribadi file server saya. Karena belum pernah saya publikasikan, nggak ada salahnya kalo kali ini saya posting di Blog Sing Biasane.
Caranya dengan mengunjungi semua department sesuai jadwal yang diberkan oleh HRD. Saat itu jadwalnya aku harus bertemu dengan Kepala dept. Store Fabric (gudang kain), orangnya sangat familiar dan tidak kaku bahkan banyak bercanda. Sehingga pembicaraan saat itu mengalir saja, banyak yang dibicarakan tidak hanya tentang pekerjaan tetapi diselingi dengan pengalaman dan joke-joke yang membuat kita cepat akrab.
Namun yang paling saya ingat adalah saat beliau menceritakan: “……bahwa perusahaan ini adalah perusahaan besar dan pressurenya cukup tinggi, di segala tempat dan kondisi, sehingga banyak karyawan baru yang sering keluar masuk, segalanya diminta serba cepat mungkin itu salah satu factor yang membuatnya besar. Di sini kamu baru dan belum punya pengalaman di bidang ini, kita tidak tahu kamu itu baik/ kuat sehingga bisa survive atau ternyata lemah trus keluar begitu saja tanpa mendapatkan apa-apa”.
“Sekarang saya tanya, apakah kamu termasuk orang baik (pintar, kuat, attitude oke) dan saya andaikan berlian, atau bilamana -maaf- kamu buruk dan saya andaikan tanah liat-jawabannya nanti kamu pikir sendiri. Kedua pengandaian tadi sama baiknya, karena dengan usahamu yang keras dan sungguh-sungguh dalam melakukan semua pekerjaan serta kondisi di sini memungkinkan kamu akan selalu mengalami/ menemui benturan-benturan keras, dimarahin, disalahkan dan ada berbagai macam masalah yang datang dari berbagai arah yang akan membuatmu stress”.
“Bila kamu berlian, yang awalnya hanya bongkahan nantinya setelah berhasil melewati masa-masa tadi mungkin kamu akan menjadi berlian yang bentuknya sangat indah dan diminati (banyak) orang. Dan bilamana kamu adalah tanah liat, kamu akan bisa menjadi bentuk apa saja seperti vas, patung, atau karya seni lainnya dan disukai (banyak) orang………..”.
Aku menjadi berpikir, bila aku menganggap diriku pintar atau berlian nantinya aku bisa menjadi berlian yang indah dan berkilauan atau sebaliknya berlianku hancur tercecer dan bernilai rendah. Namun bila aku menganggap aku ‘kurang’ atau tanah liat, nantinya aku bisa menjadi karya seni/ barang berguna atau sebaliknya juga aku tidak berbentuk apa-apa dan dibuang begitu saja. Jadi ……aku harus berusaha dan sungguh-sungguh. Ini menjadi renunganku di hari itu dan tidak pernah aku lupa cerita ini …thanks Pak Wasit Abu Ali.
Minggu, 28 November 2010
PIlihan Bijak untuk Alam dan Manusia
Minggu kemarin lusa tepatnya tanggal 13 – 14 Nov, ada acara yang diadakan oleh WWF-Indonesia di salah satu Mall di Pekanbaru. Acara ini adalah salah satu rangkaian dari acara nasional dan dilaksanakan hampir di seluruh kota besar di Indonesia. Nama dari acara ini adalah Green and Fair Product, karena istri saya mendaftar menjadi volunteer – jadinya saya ikut mendampingi, antar jemput pastinya dan jadinya saya mengerti aktivitas WWF di Indonesia khususnya di Sumatera.
Saya sebenarnya udah lama tahu mengenai aktivitas WWF, salah satunya dari personel WWF yang sering berada di mall untuk mengajak orang-orang menjadi donatur. Dari sana saya tahu ada yayasan yang berusaha ingin menyelamatkan hewan langka khususnya dari kepunahan dan konservasi hutan untuk menjaga keaneka ragaman hayati,…. saya bertemu personel wwf ini gak hanya sekali – tapi berkali kali. Tapi gak pernah jadi donatur karena mereka mendebit dana via kartu kredit, lha saya ini gak pernah jodoh kalo ngurus kartu kredit – penghasilannya terlalu rendah kali ya?
Di awal minggu kedua November saya bertemu lagi dengan personel wwf, saya sudah menyangka harus pake kartu kredit – tapi kata Mas Husni (personel wwf) bahwa sekarang wwf bisa pake debet. Lha ya udah gak usah diterangin lagi dah, saya langsung daftar jad suporter wwf (istilah untuk donatur) dengan minimal debet he he.
Di awal minggu kedua November saya bertemu lagi dengan personel wwf, saya sudah menyangka harus pake kartu kredit – tapi kata Mas Husni (personel wwf) bahwa sekarang wwf bisa pake debet. Lha ya udah gak usah diterangin lagi dah, saya langsung daftar jad suporter wwf (istilah untuk donatur) dengan minimal debet he he.
Saat ini ada delapan produk yang dikelola wwf bersama masyarakat dan tersebar di seluruh indonesia, yakni: Minyak Kayu Putih Walabi dari Wasur Papua; Madu Hutan Gunung Mutis dari Timor, NTT ; Beras Adan Tana Tam dari Krayan Dataran Tinggi Borneo; Produk Lidah Buaya dari Sebangau, Kalteng; Kerajinan Manik Banuaka dari Kapuas Hulu Kalbar; Kerajinan Badak dari Ujung Kulon; Kopi Robusta Kuyungarang dari Bukit Barisan Lampung; dan Madu Hutan Tesso Nilo dari Pelalawan Riau.
Di acara ini juga di datangi oleh suporter kehormatan wwf-indonesia, Nadine Candrawinata.....wah lumayan ketemu artis. Walaupun gak bisa poto bareng, tapi kita sama-sama suporter. Nadine - suporter kehormatan kalau saya suporter............
Barusan Pulang
Friendship
Popular Posts
Blog Archive
-
▼
2020
(5)
- ► Maret 2020 (2)
- ► Februari 2020 (1)
- ► Januari 2020 (1)
-
►
2019
(21)
- ► Desember 2019 (2)
- ► November 2019 (4)
- ► Oktober 2019 (9)
- ► Agustus 2019 (1)
- ► Februari 2019 (1)
-
►
2018
(41)
- ► November 2018 (3)
- ► Oktober 2018 (2)
- ► September 2018 (3)
- ► Agustus 2018 (4)
- ► April 2018 (5)
- ► Maret 2018 (4)
- ► Februari 2018 (4)
- ► Januari 2018 (4)
-
►
2017
(46)
- ► Desember 2017 (5)
- ► November 2017 (4)
- ► Oktober 2017 (5)
- ► September 2017 (3)
- ► Agustus 2017 (4)
- ► April 2017 (5)
- ► Maret 2017 (4)
- ► Februari 2017 (4)
- ► Januari 2017 (5)
-
►
2016
(46)
- ► Desember 2016 (2)
- ► November 2016 (4)
- ► Oktober 2016 (5)
- ► September 2016 (3)
- ► Agustus 2016 (3)
- ► April 2016 (4)
- ► Maret 2016 (5)
- ► Februari 2016 (8)
- ► Januari 2016 (6)
-
►
2015
(61)
- ► Desember 2015 (3)
- ► November 2015 (4)
- ► Oktober 2015 (3)
- ► September 2015 (1)
- ► Agustus 2015 (2)
- ► April 2015 (3)
- ► Maret 2015 (12)
- ► Februari 2015 (12)
- ► Januari 2015 (11)
-
►
2014
(51)
- ► Desember 2014 (2)
- ► November 2014 (2)
- ► Oktober 2014 (3)
- ► Agustus 2014 (2)
- ► April 2014 (3)
- ► Maret 2014 (13)
- ► Februari 2014 (11)
- ► Januari 2014 (12)
-
►
2013
(96)
- ► Desember 2013 (5)
- ► November 2013 (4)
- ► Oktober 2013 (4)
- ► September 2013 (8)
- ► Agustus 2013 (13)
- ► April 2013 (4)
- ► Maret 2013 (13)
- ► Februari 2013 (12)
- ► Januari 2013 (12)
-
►
2012
(47)
- ► Desember 2012 (8)
- ► November 2012 (8)
- ► Oktober 2012 (14)
- ► September 2012 (3)
- ► Agustus 2012 (3)
- ► April 2012 (2)
- ► Maret 2012 (1)
- ► Januari 2012 (3)
-
►
2011
(39)
- ► Desember 2011 (4)
- ► November 2011 (1)
- ► Oktober 2011 (3)
- ► September 2011 (3)
- ► Agustus 2011 (3)
- ► April 2011 (4)
- ► Maret 2011 (3)
- ► Februari 2011 (4)
- ► Januari 2011 (5)
-
►
2010
(21)
- ► Desember 2010 (4)
- ► November 2010 (3)
- ► Oktober 2010 (5)
- ► September 2010 (5)
- ► Agustus 2010 (1)
@zal.ard
Copyright (c) 2010 Blog Sing Biasane. Design by WPThemes Expert
Themes By Buy My Themes And Ceiling Fan Parts.
Themes By Buy My Themes And Ceiling Fan Parts.
