Tampilkan postingan dengan label main. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label main. Tampilkan semua postingan

Minggu, 03 Juli 2011

Postinganku Diakui (Lagi)

Syukur Alhamdulillah, salah satu postingan Blog Sing Biasane bisa muncul di media lain dan bisa dinikmati oleh teman-teman yang memang belum pernah mengunjungi. Secara disengaja rizalarable mengirim tulisan ke sebuah majalah yang dikelola Perusahaan, dan ternyata tulisan yang diambil dari Blog Sing Biasane itu diakui dan muncul di salah satu halamannya. Setelah pernah muncul di salah satu koran di Pekanbaru, kini pencarian pengakuan itupun berlanjut.


“Zal mau gak kirim tulisan ke majalan Perusahaan”, tanya kontributor di Kantorku. “Mau dong, kapan deadlinenya?” tanyaku. “3 hari lagi!”. Wah tantangan nih….tapi mau nulis tentang apa ya, waktunya juga terbatas, ini hari Sabtu – terakhir hari Senin. Padahal hari minggu harus release Blog Sing Biasane,  ya ya ya aku punya ide. Dari pada poseng poseng nulis baru, comot aja dari Blog; itung itung promosi. Akhirnya terpilihlah 2 tulisan yang memang berhubungan dan terinspirasi dari aktivitas di kantor, sent! Wusss…….berangkatlah ke HO (tulisannya doang).

Minggu, 26 Juni 2011

Aku Masih Jalan-Jalan

Whooaaa…capek juga nih. Why? Why? Why? Sudah beberapa minggu ini rizalarable ‘berjalan-jalan’ di beberapa blog, lumayan dapat pengetahuan, pencerahan baru dan pastinya cukup mengobati rasa bosan blogging saya. Memperhatikan dari blog-blog yang saya kunjungi, beberapa Blog memilih pure menceritakan tentang dirinya dan pengalamannya. Ada beberapa macam sih, salah satunya ya seperti Blog Sing Biasane ini – kalau yang satu ini cuma Blog Paling Biasa dari yang Biasa aja.

Nah saya terinspirasi Blog yang menceritakan pengalaman pribadinya, menceritakan sesuatu dari sudut pandangnya atau menceritakan orang-orang sekitarnya. Jadi pengen sebenarnya mengikuti mereka, sebenarnya hampir sama dengan yang rizalarable lakukan selama ini : membahas pengalamannya – walaupun dengan cara yang ringan. Tapi bisa jadi hal ini kadang gak menarik minat pembaca, karena saya nih siapa? ada yang kenal gak ya?.Kalau saya nih artis, atlet, pejabat, sosialita, pasti apa yang dilakukan menarik para pembaca.

Ini saya berikan hasil jalan-jalan ke beberapa blog: 

Minggu, 29 Mei 2011

Sekali Dayung, Dua Tiga Pulau Terlampaui

Judul diatas saya ambil karena kali ini saya akan menulis mengenai pengalaman menikmati Indomie, tahu kan Indomie? salah satu produk asli Indonesia buatan Indofood, yang telah menjadi ‘makanan pokok’ masyarakat Indonesia dan berhasil mendunia dengan menggunakan brand yang sama. 

Nah pengalaman saya ini akan saya tuangkan di Blog Sing Biasane dan akan saya kirim ke kompetisi cerita indomie. Mudah-mudahan pengunjung BSB menyukai (bukan mie nya lho) dan juri dari Indofood juga. So satu kali dayung, dua tiga pulau terlampaui……
 
Di keluarga kami indomie atau mie instant merk lain lah [tahun 90’an masih di dominasi indomie juga], menjadi makanan/ lauk alternatif jika memang Ibu tidak memasak. Kami adalah salah satu keluarga di Indonesia yang menikmati mie instant sebagai lauk untuk menemani nasi, jadi 1 bungkus mie instant biasa kita nikmati berdua atau bertiga. 

Ternyata setalah remaja pemahaman saya nih kelihatannya salah, karena mie instan sebenarnya dinikmati hanya mie saja.

Mie Goreng Kuah
Maklum, keluarga kami dulu bukan termasuk keluarga yang menengah ke atas, jadi untuk mie instan, martabak, bakso dan nasi goreng pun menjadi ‘lauk’. Dulu mie instant yang masih sering kita nikmati adalah mie goreng, sedangkan mie kuah jarang disediakan oleh ibu. 


Nah karena stok kami nih memang mie goreng saja, saat kami ingin menikmati mie kuah. Ibu  dengan ‘pede’ nya mengolah mie goreng - yang dihidangkan menjadi mie kuah. Alakazam!.... gimana nih, saat pertama kali ‘produk ini di launching’ kami sempet protes “kok mie goreng di kasih kuah?”, “udah makan aja!” jawab ibu. Ternyata kenikmatan rasanya gak masalah juga, malah ada rasa baru yang bisa kita dapat dari indomie goreng.

Minggu, 22 Mei 2011

Bosan Blogging!

Ya ampuun  lama banget ya gak ketemu dan update postingan rizalarable, ya jelas lah……udah 2 minggu gak posting. Napa gitu? Biar aja, ini salah satu percakapan anak-anak di tempat saya. Kalau ditanya kenapa ya kok gak posting: yang pertama pastinya males, jenuh dan hanya sedikit perubahan.


Sebenarnya ini bukan pertama kali saya gak posting, di hari minggu ke 3 Maret yaitu setelah postingan Nggak Usah Repot untuk Bisa Expert, tapi yang sekarang ini sampe 2 minggu gak posting, muales tenan apalagi beberapa problem klasik muncul di pekerjaan saya. Mulai dari masalah stock, pencapaian dan tim saya yang berkurang karena ingin berkarier di tempat lain…huuhmphss. Hidup terus berjalan, harusnya ;;;; tapi saya memilih untuk mengikuti masalah itu dan menjadi males. 

Males, itulah yang utama namun 'otak kita yang gede ini' berusaha memberi masukan lain yang mengatakan bahwa saya jenuh/ bosan.  Bener loh, lama-lama kayak gini bosen juga: tiap minggu nulis dan nulis dan nulis. Tapi kenapa penulis berita tidak pernah bosan ya???? He he saya tahu, karena mereka dibayar  - ada yang dia dapatkan dari aktivitasnya dan itu berbanding lurus dengan apa yang dia usahakan. Tapi kalau aktivitas update/ posting Blog Sing Biasane..hasilnya sampe sekarang~~~ sedikit. Beberapa pengakuan , dukungan dan semangat memang muncul dari teman-teman. Dan sebenarnya hal itu membuat saya senang dan bangga, bukankah knowing and sharing itu hal yang baik. Gitu donk!!

Minggu, 24 April 2011

Flying like a Bird or Walk like a Worm : Part 2

Hei hei jumpa lagi di Blog Sing Biasane, melanjutkan tema minggu sebelumnya tentang flying like a bird and walk like a worm. Udah baca gak nih? Silahkan menuju ke Part 1, kalau sudah – yuk kita menuju ke cara berjalannya cacing. Hal inilah yang dilakukan oleh Muhammad Yunus saat proses pendirian Grameen Bank di Bangladesh, Bank yang didirikan khusus bagi kaum papa yang memberikan pinjaman tanpa jaminan.
 
Dengan filosofi ini Muhammad Yunus berusaha untuk bisa berjalan dan memandang layaknya seekor cacing, sehingga mengetahui apa saja yang terpapar di depan matanya dengan perlahan, mencium baunya dengan lama, menyentuhnya dengan penuh perasaan dan melihat adakah sesuatu yang bisa dilakukannya.

Konsep ini menurut saya cukup bagus dan kenyataannya yang Anda tidak sadari, hal ini sudah Anda lakukan. Coba Anda perhatikan yang lakukan sekarang, Ya…. Aktivitas/ pekerjaan yang Anda lakukan setiap harinya. Pasti Anda telah melakukan berulang kali dan pastinya kemampuan melakukannya sudah diluar kepala. Dibanding orang lain Anda akan lebih menguasai aktivitas itu, Anda mengetahui lebih detil dan hasilnya juga sudah barang tentu baik pula.

Minggu, 17 April 2011

Flying like a Bird or Walk like a Worm : Part 1

Lagi lagi Blog Sing Biasane memberikan posting pilihan, setelah Berlian dan Tanah Liat kini rizalarable menuliskan ‘Terbang seperti Burung atau Berjalan seperti Cacing’. Saya terinspirasi dari membaca buku Re Code Your Change DNA oleh Rheinal,d Khasali, yang di salah satu Bab membahas mengenai Muhammad Yunus - beliau adalah tidak lain dan tidak bukan pendiri dari Grameen Bank – yaitu Bank yang dikhusukan bagi kaum papa di wilayah Bangladesh .

Dari wawancaranya khusunya dengan Stephen Covey – Muhammad Yunus mengatakan bahwa “Saya meninggalkan pola pikir seekor burung yang memungkinkan kita melihat segala-galanya jauh dari atas, dari langit. Saya mulai melakukan pandangan seekor cacing, yang berusaha mengetahui apa saja yang terpapar persis didepan mata saya – mencium baunya, menyentuhnya, dan melihat adakah sesuatu yang bisa saya lakukan”.

Duh duh….Juara bener nih kata – kata M’Yunus, apalagi bagi kita yang sering membaca, mendengar atau bahkan melakukan pekerjaan (kehidupan) dengan metode ‘Helicopter View’. Nih apalagi? ‘Helicopter View’, ini sama saja dengan pola pikir seekor burung. Bisa melihat banyak hal dari atas, sehingga seekor burung bisa dengan mudah mencari ‘solusi’ makanan/ kehidupannya.

Minggu, 10 April 2011

Postinganku Diakui


Waow, mantap man! Baru kali tulisan saya dimuat di media massa (koran), salah satu postingan di Blog Sing Biasane tampil di Tribun Pekanbaru. Gak nyangka bener, tulisan yang saya daftarkan ke Tribun Pekanbaru via Blogger Bertuah ternyata di terbitkan juga. 

Walaupun ada editan disana sini, termasuk judulnya juga diganti dari Tidak ada Ruh Diantara Mereka mejadi 'Tegur Sapa itu Budaya Membangagakan' tapi gak masalah. Yang penting gak mengurangi maksud dan tujuan dari tulisan ini. Blogger nih biasanya cari judul yang hot dan menarik untuk dibaca, dan isinya juga apa yang ada di pikiran si blogger tanpa melewati proses editing oleh orang lain.

Prestasi di bidang tulis menulis paling tinggi, selama saya hidup adalah ada di salah satu bulletin Jumat di Masjid dekat Kampus. Beberapa kali tulisan saya hadir di salah satu minggu Bulletin Muhajirin, itu aja sudah lega banget. Sampe akhirnya saya diberi kepercayaan untuk menjadi Ketua Redaksi Bulletin Muhajirin, lha kalo gini nama saya nampang terus tiap minggunya-nulis gak nulis nama saya tetap nampang tiap minggunya.

Dengan kemunculan di Tribun, semangat saya lumayan bertambah. Semangat menulis, semangat membaca dan semangat posting tentunya. Mengabarkan kepada banyak orang apa yang saya ketahui dan pelajari, bahasa inggrisnya “ know it and share it”.

Minggu, 03 April 2011

Sebangsa tapi tidak Merasa

Tidak merasa apaan nih? Gak jelas banget sih. Kalo Jelas ntar malah gak baca donk..He he - maksudnya tuh, ya Tidak Merasa Sebangsa lah. Saya terinspirasi untuk menulis Judul di atas setelah membaca buku ‘The Journey of a Muslim Traveler’  yang ditulus oleh Mas Heru Susetyo. Buku terbitan Tahun 2009 dari Lingkar Pena ini saya dapat dengan harga yang cukup bagus, lha wong beli pas ada obral. Walaupun belum habis bacanya, tapi saya gak tahan untuk membaginya kepada pengunjung Blog Sing Biasane.
 
Dalam buku ini, penulis mengisahkan bahwa disalah satu kunjunganya di Thailand, tepatnya di kota Pattani, provinsi Patani, Thailand Selatan. Kalau kita liat di Peta Dunia, Thailand Selatan berbatasan langsung dengan Malaysia. 

Sehingga budaya Melayu lebih kental daripada budaya Thai itu sendiri, misalnya mereka sangat menyukai lagu dan film Malaysia serta Indonesia. Bahasapun mereka lebih sering menggunakan bahasa Melayu, pakaian yang dikenakan serta penganut agama Islam banyak bertebaran di Pattani.

Sebenarnya penduduk Pattani lebih mirip orang Melayu, berbeda dengan penduduk Thailand pada umumnya yg bersuku Thai, karena sebenarnya mereka adalah keturunan Melayu. Bergabungnya tiga provinsi di selatan Thailand (Pattani, Yala dan Narathiwat) adalah kehendak dari Inggris dan Kerajaan Siam melalui perjanjian pada tahun 1909. Yang sama sekali tidak mendengarkan suara rakyat di tiga provinsi tersebut.  Siam itu menjajah tiga provinsi di selatan Thailand sampai kini, dan jangan sebut kami orang Thai atau Muslim Thai. Kami adalah Melayu Muslim Pattani.

Minggu, 20 Februari 2011

Berlian dan Tanah Liat

Di postingan kali ini rizalarable memberikan cerita lama tentang pilihan, tulisan ini sebenarnya sudah lama tersimpan di ‘brankas’ salah satu folder pribadi file server saya. Karena belum pernah saya publikasikan, nggak ada salahnya kalo kali ini saya posting di Blog Sing Biasane.


Ini pengalaman saya dulu saat bekerja salah satu perusahaan garment di Ungaran – Jawa Tengah, saat itu bagi semua karyawan baru diwajibkan mengikuti ‘orientasi karyawan baru’ yakni dengan mengenal semua Department dari jenis pekerjaan, personil dan hubungannya dengan pekerjaan (department) kita nantinya.

Caranya dengan mengunjungi semua department sesuai jadwal yang diberkan oleh HRD. Saat itu
jadwalnya aku harus bertemu dengan Kepala dept. Store Fabric (gudang kain), orangnya sangat familiar dan tidak kaku bahkan banyak bercanda. Sehingga pembicaraan saat itu mengalir saja, banyak yang dibicarakan tidak hanya tentang pekerjaan tetapi diselingi dengan pengalaman dan joke-joke yang membuat kita cepat akrab.

Namun yang paling saya ingat adalah saat beliau menceritakan: “……bahwa perusahaan ini adalah perusahaan besar dan pressurenya cukup tinggi, di segala tempat dan kondisi, sehingga banyak karyawan baru yang sering keluar masuk, segalanya diminta serba cepat mungkin itu salah satu factor yang membuatnya besar. Di sini kamu baru dan belum punya pengalaman di bidang ini, kita tidak tahu kamu itu baik/ kuat sehingga bisa survive atau ternyata lemah trus keluar begitu saja tanpa mendapatkan apa-apa”.


“Sekarang saya tanya, apakah kamu termasuk orang baik (pintar, kuat, attitude oke) dan saya andaikan berlian,  atau bilamana -maaf- kamu buruk dan saya andaikan tanah liat-jawabannya nanti kamu pikir sendiri. Kedua pengandaian tadi sama baiknya, karena dengan usahamu yang keras dan sungguh-sungguh dalam melakukan semua pekerjaan serta kondisi di sini memungkinkan kamu akan selalu mengalami/ menemui benturan-benturan keras, dimarahin, disalahkan dan ada berbagai macam masalah yang datang dari berbagai arah yang akan membuatmu stress”.


“Bila kamu berlian, yang awalnya hanya bongkahan nantinya setelah berhasil melewati masa-masa tadi mungkin kamu akan menjadi berlian yang bentuknya sangat indah dan diminati (banyak) orang. Dan bilamana kamu adalah tanah liat, kamu akan bisa menjadi bentuk apa saja seperti vas, patung, atau karya seni lainnya dan disukai (banyak) orang………..”.
 
Aku menjadi berpikir, bila aku menganggap diriku pintar atau berlian nantinya aku bisa menjadi berlian yang indah dan berkilauan atau sebaliknya berlianku hancur tercecer dan bernilai rendah. Namun bila aku menganggap aku ‘kurang’ atau tanah liat, nantinya aku bisa menjadi karya seni/ barang berguna atau sebaliknya juga aku tidak berbentuk apa-apa dan dibuang begitu saja. Jadi ……aku harus berusaha dan sungguh-sungguh. Ini menjadi renunganku di hari itu dan tidak pernah aku lupa cerita ini …thanks Pak Wasit Abu Ali.

Minggu, 28 November 2010

PIlihan Bijak untuk Alam dan Manusia

Minggu kemarin lusa tepatnya tanggal 13 – 14 Nov, ada acara yang diadakan oleh WWF-Indonesia di salah satu Mall di Pekanbaru. Acara ini adalah salah satu rangkaian dari acara nasional dan dilaksanakan hampir di seluruh kota besar di Indonesia. Nama dari acara ini adalah Green and Fair Product, karena istri saya mendaftar menjadi volunteer – jadinya saya ikut mendampingi, antar jemput pastinya dan jadinya saya mengerti aktivitas WWF di Indonesia khususnya di Sumatera.

Saya sebenarnya udah lama tahu mengenai aktivitas WWF, salah satunya dari personel WWF yang sering berada di mall untuk mengajak orang-orang menjadi donatur. Dari sana saya tahu ada yayasan yang berusaha ingin menyelamatkan hewan langka khususnya dari kepunahan dan konservasi hutan untuk menjaga keaneka ragaman hayati,…. saya bertemu personel wwf ini gak hanya sekali – tapi berkali kali. Tapi gak pernah jadi donatur karena mereka mendebit dana via kartu kredit, lha saya ini gak pernah jodoh kalo ngurus kartu kredit – penghasilannya terlalu rendah kali ya?

Di awal minggu kedua November saya bertemu lagi dengan personel wwf, saya sudah menyangka harus pake kartu kredit – tapi kata Mas Husni (personel wwf) bahwa sekarang wwf bisa pake debet. Lha ya udah gak usah diterangin lagi dah, saya langsung daftar jad suporter wwf (istilah untuk donatur) dengan minimal debet he he.

Kembali ke acara green and fair product, ini apaan sih: GnF Product  adalah acara yang di gagas oleh wwf untuk mengenalkan produk-produk dari Indonesia yang dihasilkan oleh orang-orang Indonesia dengan proses produksi yang ramah, higienis, alami dan berkelanjutan. Disini wwf juga berkolaborasi dengan masyarakat yang berada di kawasan konservasi untuk membantu mempromosikan dan memasarkan produk-produk yang terbuat dari bahan alami setempat. Karena wwf percaya bahwa produk ini terjamin, dalam arti produk tersebut memenuhi beberapa kriteria mendasar dari segi ekologi dan sosial.

Saat ini ada delapan produk yang dikelola wwf bersama masyarakat dan tersebar di seluruh indonesia, yakni: Minyak Kayu Putih Walabi dari Wasur Papua; Madu Hutan Gunung Mutis dari Timor, NTT ; Beras Adan Tana Tam dari Krayan Dataran Tinggi Borneo; Produk Lidah Buaya dari Sebangau, Kalteng; Kerajinan Manik Banuaka dari Kapuas Hulu Kalbar; Kerajinan Badak dari Ujung Kulon; Kopi Robusta Kuyungarang dari Bukit Barisan Lampung; dan Madu Hutan Tesso Nilo dari Pelalawan Riau.

Dan yang dipamerkan di acara ini adalah hasil produksi dari Sumatera yaitu: Madu Hutan Tesso Nilo Pelalawan Riau dan Kopi Robusta Kuyungarang Lampung. Coba friend, enak juga kok sekalian kita telah memilih produk dengan bijak untuk alam dan manusia.

Di acara ini juga di datangi oleh suporter kehormatan wwf-indonesia, Nadine Candrawinata.....wah lumayan ketemu artis. Walaupun gak bisa poto bareng, tapi kita sama-sama suporter. Nadine - suporter kehormatan kalau saya suporter............











Barusan Pulang

Friendship