Tampilkan postingan dengan label pengalaman. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label pengalaman. Tampilkan semua postingan

Senin, 03 September 2012

Menemukan Daging Blog


Walah walah…’Daging Blog’ what is this? Is this dahlia! Kalimat ini biasa diucapkan Tukul di acara Bukan Empat Mata… anda termasuk yang suka atau yang enggak dengan acara ini? Acaranya memang menghibur tapi manfaatnya dikit he he. Hiburan dan manfaat, akhirnya bisa dipisahkan- Saya sempet baca-baca artikel mengenai menulis di Blog. Penulis mengatakan bahwa content (tulisan) adalah dagingnya blog, wah wah bisa di goreng ya. 

Daging itulah yang banyak dikonsumsi (ini ngomongin ternak lho), jadinya ‘daging’ di blog harus banyak – bagus – berkualitas – indah – bermanfaat. Karena daging hampir memenuhi tubuh ternak sesudah air/cairan dan daging pula yang bisa + banyak dikonsumsi.  So..to ayam (haiyah), tulisan di blog sedikit banyak harus menyerupai ‘daging’.

Trus gimana supaya ‘daging’ ini disukai orang, ada caranya dong. Tapi sebelum ke sana, saya kasih tahu gimana supaya bisa buat tuh ‘daging’. Setelah sekian melakukan proses tulis menulis, ngblog, review, akhirnya saya kembali lagi ke jaman SD - jadi berasa tua yak. Apa yang kembali?, cara membuat tulisannya atau di SD disebut menggarang. Para Guru SD pasti mengenalkan ‘kerangka karangan’, jadi point point apa saya yang akan ditulis. Supaya struktur karangan murid jadi baik dan runtun bercerita serta tidak ada yang terlewat.

Minggu, 20 November 2011

Aku Mau Bisa!

Tapi bukannya nanti akan riya’? pertanyaan itu terucap oleh salah satu taklim’ers Piloc Iqro' di Sabtu siang. Salah satu pertanyaan standar tapi memang menggumpal di sebagian taklim’ers, dan memang hal itu terjadi. Ntar ntar…….. supaya gak bingung ini ngomongin apa, saya buka dulu ya: Ini hari rizalarable akan mengaji (mengkaji) mengenai keterpaksaan dan kebiasaan, yang dipersembahkan khusus untuk  taklim’ers di Blog Sing Biasane.


Tiap sabtu siang, ba’da dzuhur kami sengaja mengadakan acara yang di kenal dengan majlis taklim. Supaya agak tidak terlalu formil, maka acara tersebut kami namakan Piloc Iqro'. Nama ini diambil dari gabungan nama Dept. tempat kami bernaung dan tujuan kita. Susunan acara di buat sederhana, isinya juga dibuat ringan, suasana dibuat santai, pokoke gimana caranya taklimers supaya senang dan kontinyu mengikuti.

Salah satu agenda acaranya adalah menghitung ‘amalilah harian’, jadi setiap taklimers bersama-sama membuat target untuk melaksanakan amaliyah hariannya – semisal : tahajud 2 kali seminggu, sholat berjamaah dimasjid 20 kali seminggu, puasa sunnah, dll. Sebenarnya rencana ini bagus, namun karena tidak didukung oleh panitia yang semangat, checklist yang menarik serta rasa nervous yang tinggi bagi sebagian taklimers - cos, ini adalah hal baru. Maka Alhamdulillah rencana ini gagal saat pertemuan berikutnya, gak ada yang setor amalilah harian.

Salah seorang senior di Piloc Iqro' pun mengarapkan semua taklimers bisa melakukan target amaliyah hariannya dengan baik. Dan muncullah pertanyaan itu: “Tapi bukannya nanti akan riya’?”. …… Sebenarnya sih bisa aja- dengan menunjukkan amaliyahnya- seseorang menjadi sombong, congkak dan riya’. Senior itupun menjelaskan bahwa: “mau pilih mana kita hitung amalilah sekarang, atau nanti Allah akan menghitung saat penghisaban.” Dan gak ada yang menyangka lho kalo nanti bisa melakukan semua amalilah-amalilah tersebut dengan baik dan rutin dengan memulainya di hari ini”.

Minggu, 29 Mei 2011

Sekali Dayung, Dua Tiga Pulau Terlampaui

Judul diatas saya ambil karena kali ini saya akan menulis mengenai pengalaman menikmati Indomie, tahu kan Indomie? salah satu produk asli Indonesia buatan Indofood, yang telah menjadi ‘makanan pokok’ masyarakat Indonesia dan berhasil mendunia dengan menggunakan brand yang sama. 

Nah pengalaman saya ini akan saya tuangkan di Blog Sing Biasane dan akan saya kirim ke kompetisi cerita indomie. Mudah-mudahan pengunjung BSB menyukai (bukan mie nya lho) dan juri dari Indofood juga. So satu kali dayung, dua tiga pulau terlampaui……
 
Di keluarga kami indomie atau mie instant merk lain lah [tahun 90’an masih di dominasi indomie juga], menjadi makanan/ lauk alternatif jika memang Ibu tidak memasak. Kami adalah salah satu keluarga di Indonesia yang menikmati mie instant sebagai lauk untuk menemani nasi, jadi 1 bungkus mie instant biasa kita nikmati berdua atau bertiga. 

Ternyata setalah remaja pemahaman saya nih kelihatannya salah, karena mie instan sebenarnya dinikmati hanya mie saja.

Mie Goreng Kuah
Maklum, keluarga kami dulu bukan termasuk keluarga yang menengah ke atas, jadi untuk mie instan, martabak, bakso dan nasi goreng pun menjadi ‘lauk’. Dulu mie instant yang masih sering kita nikmati adalah mie goreng, sedangkan mie kuah jarang disediakan oleh ibu. 


Nah karena stok kami nih memang mie goreng saja, saat kami ingin menikmati mie kuah. Ibu  dengan ‘pede’ nya mengolah mie goreng - yang dihidangkan menjadi mie kuah. Alakazam!.... gimana nih, saat pertama kali ‘produk ini di launching’ kami sempet protes “kok mie goreng di kasih kuah?”, “udah makan aja!” jawab ibu. Ternyata kenikmatan rasanya gak masalah juga, malah ada rasa baru yang bisa kita dapat dari indomie goreng.

Barusan Pulang

Friendship