Tampilkan postingan dengan label paksaan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label paksaan. Tampilkan semua postingan

Minggu, 08 Januari 2017

Saat kamu memaksa, ini yang sebenarnya terjadi

Lari pagi jadi rencana tiap morning, bukannya apa apa... nih perut nonggol terus. Walaupun teman saya pernah ngomong kalau mau ngecilin perut, sit up 30-40 kali per hari. Tapi tetep aja lari jadi andalan menghasilkan keringat, membakar kalori dan memperkuat otot ....asyeek.

Hari itu tiba-tiba males aja lari, mau nyuci baju tapi lupa sabun belum beli. Mau lihat film gak minat, mau nulis gak ada ide. Keinginan lari masih ada, because merasa bersalah karena hingga hari Jumat baru lari sekali aja, yawes tak niatkan lari sebentar. Eh baru dapat 500 m istri ane nelp dari Pati, ngobrol sambil jalan sampe 300an meter. 

Udah males, mau panas eh telponan jadi dingin lagi.


Rabu, 30 Januari 2013

Bike Like Hell



Hari Rabu saya tasbihkan sebagai movie review aja ah, secara movielover,  kopilover dan koranloper, blog ini bisa jadi tempat untuk berbagi tempat untuk mereview film film medioker agar bisa dikenal. Soale kalo film yang rame ditonton udah rame juga di review. Saya sebenarnya ada 2 pilihan film : Total Recall atau Premium Rush, kalo ditimbang-timbang – pilih yang lebih baru aja lah. – Premium Rush – 

Sejak keluar trailernya di TV, jadi berharap banget bisa menonton. Bayangan awal saya pengirim dokumen bersepeda ini akan banyak aksi menegangkan dan cerita yang menggelegar serta membutuhkan banyak pesepeda yang akan membantu tokoh utama saat terkena masalah. (Maaf 26 kata tanpa koma, keenakan). Ternyata enggak seperti itu, jadi seperti apa? nihhh


Jadi di New York tuh banyak perusahaan kurir pengirim dokumen, yang memakai kendaraan sepeda. Karena di sana sudah macet banget kali ya, kayak Jakarta enntuh. So di jalanan New York banyak berseliweran pesepeda-pesepeda pagi – malam, menenteng tas yang berisi dokumen. Dialah kurir sepeda.

Minggu, 30 Desember 2012

Jateng Riwayatku Dulu


Oke nulis about Jawa Tengah sekarang, kalau gak dipaksa ya gak akan coba nulis. Siapa yang paksa zal? Ada deh, mau tahu aja. Seneng sebenernya di kondisi ginian, di paksa, kepepet, deadline, yang pasti ada proses belajar disana untuk lebih baik. Yup, coba deh untuk terus menerus memepetkan diri untuk melakukan aktivitas (yang baik), atau Anda akan terus nyaman dikondisi sekarang.

Lebih dari 1,5 tahun (2004 – 2005) saya pernah bekerja di Ungaran, salah satu kabupaten di Jawa Tengah. Tepatnya di Ungaran Sari Garment, Karangjati. Selama itu pula saya jarang kemana-mana. Lokasi pabrik yang masuk ke dalam sejauh + 7 Km, kerja 12 jam tiap hari. Membuat hari – hari ku hanya di kost ke pabrik pp, untuk beli sarapan dan makan malam pun kadang gak sempat.

Yang paling di tunggu adalah hari Minggu, tiduran; cuci setrika; ke Semarang dan ke Jogja. Paling sering saya ke Jogja, karena kakak kandung saya tinggal dengan keluarga kecilnya disana. Pulang kerja Sabtu sore bareng teman (kadang naik bis) berangkat ke Jogja. Wuih senengnya, menikmati perjalanan : Bawen, Ambarawa, Secang, Magelang, Muntilan, Sleman, nah Jogja deh. Kadang kami (naik motor) memilih lewat Salatiga, Boyolali, Klaten dan Jogja.

Minggu, 20 November 2011

Aku Mau Bisa!

Tapi bukannya nanti akan riya’? pertanyaan itu terucap oleh salah satu taklim’ers Piloc Iqro' di Sabtu siang. Salah satu pertanyaan standar tapi memang menggumpal di sebagian taklim’ers, dan memang hal itu terjadi. Ntar ntar…….. supaya gak bingung ini ngomongin apa, saya buka dulu ya: Ini hari rizalarable akan mengaji (mengkaji) mengenai keterpaksaan dan kebiasaan, yang dipersembahkan khusus untuk  taklim’ers di Blog Sing Biasane.


Tiap sabtu siang, ba’da dzuhur kami sengaja mengadakan acara yang di kenal dengan majlis taklim. Supaya agak tidak terlalu formil, maka acara tersebut kami namakan Piloc Iqro'. Nama ini diambil dari gabungan nama Dept. tempat kami bernaung dan tujuan kita. Susunan acara di buat sederhana, isinya juga dibuat ringan, suasana dibuat santai, pokoke gimana caranya taklimers supaya senang dan kontinyu mengikuti.

Salah satu agenda acaranya adalah menghitung ‘amalilah harian’, jadi setiap taklimers bersama-sama membuat target untuk melaksanakan amaliyah hariannya – semisal : tahajud 2 kali seminggu, sholat berjamaah dimasjid 20 kali seminggu, puasa sunnah, dll. Sebenarnya rencana ini bagus, namun karena tidak didukung oleh panitia yang semangat, checklist yang menarik serta rasa nervous yang tinggi bagi sebagian taklimers - cos, ini adalah hal baru. Maka Alhamdulillah rencana ini gagal saat pertemuan berikutnya, gak ada yang setor amalilah harian.

Salah seorang senior di Piloc Iqro' pun mengarapkan semua taklimers bisa melakukan target amaliyah hariannya dengan baik. Dan muncullah pertanyaan itu: “Tapi bukannya nanti akan riya’?”. …… Sebenarnya sih bisa aja- dengan menunjukkan amaliyahnya- seseorang menjadi sombong, congkak dan riya’. Senior itupun menjelaskan bahwa: “mau pilih mana kita hitung amalilah sekarang, atau nanti Allah akan menghitung saat penghisaban.” Dan gak ada yang menyangka lho kalo nanti bisa melakukan semua amalilah-amalilah tersebut dengan baik dan rutin dengan memulainya di hari ini”.

Barusan Pulang

Friendship