Tampilkan postingan dengan label pemasaran. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label pemasaran. Tampilkan semua postingan

Senin, 09 September 2013

#10daysforASEAN Finish

Capek dan lega rasanya setaleh menyelesaikan gelaran #10daysforASEAN, kemaren kemaren rasanya ingin nyerah aja – karena tema dan saingannya berat. Lega karena udah menyelesaikan lomba, bisa memaksa diri untuk nulis tiap hari, banyak membaca, penelitian (googling) disana sini, jumpalitan deh. Kayak ngerjain tugas kuliah, padahal dulu kuliah juga nggak gini gini amat.

Saya nggak yakin bisa menang sebenarnya, tapi karena pesimis itu nggak baik – jadinya saya yakin aja….. untuk kalah! jiahh glodaks. Berharap jurinya khilaf trus milih saya, itu yang diharapkan. Kebetulan lagi pengen punya smartphone android, 2 tahun pake BB kok merasa tertinggal dengan yang pake Android. Bulan bulan ini beberapa lomba blog aku ikutin sih, kebetulan tahu dan seneng, daftrar aja apa salah nya.

Minggu, 18 Desember 2011

Meneladani Entrepreneurship

Mengapa di AlQuran dan Hadits sedikit sekali dibahas mengenai dunia entrepreneurship? Padahal di point ke #3 posting minggu lalu Nabi bersabda bahwa "9 dari 10 bagian kehidupan adalah perdagangan". 

Ustad di tempat saya ngaji pernah menyampaikan hal ini, jaman dulu hampir semua orang mata pencahariannya adalah pedagang atau jualan, petani juga jualan, peternak juga jualan, pengrajin juga jualan, mungkin yang enggak adalah pegawai pemerintahan dan fakir miskin. Selain pedagang, mereka juga berdakwah – jadi kewajiban mengingatkan dilakukan oleh semua orang. Sehingga Da’i sebagai profesi jelas tidak ada, karena memang berdakwah adalah suatu keharusan.

 Oke, melanjutkan pembahasan Blog Sing Biasane minggu lalu -  mari kita tengok 4 point Muhammad sebagai pedagang karya Ippho Santosa  dibawah ini. Untuk meneladani semangat Entrepreneurship Beliau.

#6 Barang siapa yang merasa bahagia jika dilebihkan umur dan rezekinya, hendaklah ia bersilaturahim.
Orientasi bisnis terhadap kepercayaan (bukan materi) akan membawa keberkahan, itulah manfaat vertikalnya. Hebatnya, kepercayaan juga membuahkan manfaat horizontal, yakni pengukuhan silaturahim. Karena kepercayaan akan menumbuhkan rasa aman dan nyaman bagi kedua belah pihak untuk menjalin serta melanggengkan hubungan. Istilahnya kepercayaan dulu baru silaturahim.

Islam tidak menghalangi entrepreneur untuk mendapatkan rezeki dalam bentuk materi. Paradigman ini perlu dipahami sungguh-sungguh. Apa yang kami ketahui, pencapaian materi adalah output akhir, setelah entrepreneur melintasi proses yang menitikberatkan keberkahan, kepercayaan dan silaturahim.

Hikmahnya keberkahan, kepercayaan dan silaturahim itu adalah bunga, sedangkan pencapaian materi itu adalah rumput. Jika menanam rumput akan tumbuh rumput, jika menanam bunga akan tumbuh bunga dan rumput.

#7 Sampaikanlah kabar gembira dan jangan menakut-nakuti
Al Quran jelas-jelas menyerukan, “Janganlah engkau mengambil harta sesama dengan cara yang bathil, kecuali dengan perniagaan yang berdasarkan kesukarelaan antara satu sama lainnya.” Dalil tersebut menunjukkan bahwa kesukarelaan merupakan asas mutlak bagi entrepreneur dan konsumen dalam bertransaksi.

Minggu, 09 Oktober 2011

Mie Kerupuk


Wah enak nih, mie goreng dan krupuk – salah satu pasangan yang maknyus jika dihidangkan sebagai penganan Anda. Berbicara mengenai makanan, mie instant dan krupuk untuk sebahagian orang/ penduduk Indonesia sudah menjadi makanan pokok. Minggu ini Blog Sing Biasane mencoba untuk membagi inspirasi dengan melihat salah satu produk makanan ini. 

Suatu hari saya membeli mie instant dan krupuk, seperti gambar disamping. Saat di sandingkan dan dilihat lama….lama….lebih lama…lebih lama….ternyata ada persamaan. Apa itu?.... Harganya!.... .dienggGG – kalo itu mah gak usah dilihat kali, pas beli kan tahu juga. Aneh juga sebenarnya, mie instant dengan kemasan yang sangat bagus, dilengkapi dengan bumbu-bumbunya, bahkan 1 merk bisa tersebar dimana-mana kadang berhadiah pula- harganya Rp. 1.500. Sedangkan krupuk, yang bahannya hanya dari tepung, minyak untuk menggoreng dan plastik seadanya..ternyata harga juga Rp. 1500!!!.#tercengang.

Benar-benar menakjubkan, amazing!!! Mie instant yang bisa mengenyangkan dengan rasa yang bervariasi juga lezat harganya sama dengan krupuk yang berat nya jauh lebih ringan dan tidak mengenyangkan. Pabrik mie instant bisa jadi hanya beberapa, namun produknya bisa tersebar di seluruh indonesia raya, sedangkan krupuk… boro-boro seluruh indonesia, bisa menguasai satu kota aja sudah puas tuh juragannya.

Apa gak rugi tuh pabrik mie instant dengan harga segitu?, 'beta tidak tahu', tapi coba tengok karyawan-karyawan Indomie, Mie Sedap, atau Mie ABC….bejibun banyaknya dan pastinya gaji mereka diatas UMR apalagi staffnya. Atau kita bisa mengira : untungnya gede kali si juragan krupuk, produk yang seperti enntuh# harganya disamakan dengan mie instant. Coba pula lihat ato bayangin aja deh karyawan-karyawati pabrik krupuk……hmmm udah? ……..Trus kalo dibandingin dengan karyawan pabrik Mie, anda pilih yang mana?….. wow pilihan Anda sama dengan pilihan saya.

Minggu, 06 Februari 2011

Brand Benefit : Part 2

Kembali bertemu di minggu siang bersama Blog Sing Biasane, melanjutkan cerita minggu  lalu mengenai Brand Benefit. Masih ingatkan? atau belum baca...silahkan baca Part 1. Kalo yang masih inget ayo kita lanjutin lagi, sesuai janji saya di minggu lalu.

Setelah kita bicarakan komponen Get dari sebuah brand yakni functional benefit dan emotional benefit, sekarang kita bicara mengenai komponen Give: yang pertama adalah price, sedangkan yang kedua hider expenses. Dalam contoh rolex sebelunya, sebuah produk jam yang harganya minimal 15 juta per piece, jadi untuk mendapatkan fungsi produk yang sedemikian bagus dengan emotional benefit yang cukup membanggakan kita harus membayar 15 juta, maka dari itu tidak semua orang ingin memiliki rolex meskipun getnya tinggi tetapi givenya gak sedikit kan? karena bagi mereka yang merasakan bahwa “oke, saya tidak perlu mendapat get seperti level rolex saya tidak mau membayar 15 juta" tapi cukup 60 ribu untuk jam Monol seperti yang sekarang saya pakai.

Namun untuk orang-orang yang menginginkan kualitas functional dan emotional benefit dari sebuah produk jam maka ia akan mau membayar harga yang tinggi tersebut ….itu tadi komponen price. Tetapi jangan lupa sebuah brand tidak hanya dibebani komponen price tetapi ada komponen lain yang namanya hider expenses. 


Hider expenses adalah biaya-biaya tersembunyi kalau anda membeli/ memilih sebuah brand, seperti misalnya kalau anda memilih rolex maka hider expensesnya adalah rasa tidak aman yang akan menghantui anda – karena anda memakai jam yang mewah. Contoh lain misalnya sebuah supermarket yang harga produknya murah tapi lokasinya jauh dari rumah anda, itu artinya ada biaya tersembunyi yakni biaya transportasi dan waktu yang anda keluarkan karena membeli produk di supermarket tersebut. Belum tentu value bagi sebuah supermarket itu tinggi karena harganya murah, kalau tempatnya jauh dari rumah anda maka valuenya akan menjadi rendah bagi anda….bukankah begitu?.

Suatu contoh lain dari hider expenses adalah seorang teman lama saya – dia programmer software, softwarenya sangat bagus dan dia jual dengan harga yang sangat murah. Tetapi ternyata tidak banyak perusahaan yang berani membeli softwarenya walaupun bagus dan murah…kenapa? walaupun emotional benefitnya bagus, functional benefitnya bagus dan pricenya murah tetapi hider expensesnya banyak  misalnya: apakah software tersebut compatible dengan system yang ada, apakah karyawan yang sekarang ada mengerti dengan software tersebut sehingga biasanya ada biaya-biaya tersembunyi dalam bentuk harus mentraining karyawan dan sebagainya. 


Jadi kesimpulannya adalah brand merupakan symbol dari value dan anda harus ingat bahwa yang harus anda kemukakan kepada customer itu bukan produknya melainkan value atau brandnya dan untuk membuat suatu rumusan brand atau value yang bagus ada 4 komponen yang harus anda perhatikan : bagaimana functional benefitnya, bagaimana emotional benefitnya, lalu bagaimana pricenya dan terakhir adalah adakah hider expenses yang tersembunyi.

Minggu, 30 Januari 2011

Brand Benefit : Part 1

Bagi temen-temen yang saat ini ada keinginan untuk memulai suatu usaha khusunya yang kecil-kecilan seperti saya atau yang sedang-sedangan (maksudnya di atas kecil) perlu nih untuk mengerti mengenai brand, dari hasil saya menjajah situs/ blog/ web – mulai mengerti yang namanya brand. Karena saya percaya konsumen bisa tertarik dengan suatu produk/ jasa hanya dengan mendengar namanya saya….ini yang manteb.
 
Karena saat anda menawarkan sebuah produk/ jasa (brand) kepada customer, sebenarnya ada banyak fakor yang dapat anda tawarkan namun yang terpenting bagi customer bukan produknya tetapi value yang dia dapatkan dari membeli sebuah produk, jadi…. produk/ brand adalah janji akan sesuatu yang akan mereka dapatkan.

Sekarang berpindah ke rumusan value, apa itu value bagi customer, value bagi customer adalah apa yang akan dia dapatkan berbanding dengan apa yang harus dia bayar untuk mendapatkan produk tersebut atau istilah teknisnya adalah get dibanding give. Get adalah apa yang akan dia dapatkan sedangkan give adalah apa yang harus dia bayar untuk mendapatkan suatu produk. 


Seperti misal brandnya Honda…walah kurang keren – Jam Rolex deh, so value  apa yang ia dapatkan, ia akan mendapatkan produk jam yang sangat bekualitas dan juga sangat membanggakan, gengsinya tinggi – itu kalau Rolex. Tapi dia harus give, dia harus membayar dengan harga minimal 15 juta per piece (harganya sama Honda Supra). Jadi value bagi pembeli jam Rolex adalah kualitas dari produk dan gengsi yang akan dia dapatkan berbanding dengan harga yang harus dia bayarkan.

Berpindah ke rumusan pemasaran, bahwa get atau apa yang akan didapatkan oleh customer terdiri dari 2 komponen besar: 1. Functional Benefit dan 2. Emotional Benefit. Functional Benefit adalah manfaat-manfaat fungsional/rasional yang didapatkan seorang pembeli dari membeli sebuah produk. 


Seperti misalnya kita memberli mobil, maka functional benefit yang kita dapatkan adalah alat transportasi – functional benefitnya adalah problem solving benefit  dari pembelian sebuah produk/ brand. Tapi kalo kita membeli mobil ……katakanlah untuk lebih keren atau lebih muda dan dikagumi teman-teman itu disebut sebagai emotional benefit, jadi mobil tersebut tidak hanya mempunyai functional benefit tapi juga emotional benefit.

Emotional benefit dibagi menjadi 2 komponen besar, ada yang sifatnya Personal dan ada yang sifatnya Self Expressive. Emotional benefit yang personal bisa didapatkan misalnya saat anda menggunakan sabun Lux dan waktu anda mandi dengan sabun tersebut anda akan merasa sebagai bintang film kan? Itu yang namanya emotional benefit yang sifatnya personal karena gak mungkin anda mandi di depan orang dengan menunjukkan brand yang anda pakai…Diennnggg– itu sifatnya personal.

Sedangkan self expressive : bertentangan dengan yang pertama tadi. Self expressive adalah manfaat yang didapatkan dengan mempergunakan sutau brand dengan menunjukkan brand tersebut kepada orang-orang banyak. Jadi produk-produk yang sifatnya sosial seperti rokok, mobil, makanan dan fashion/ pakaian adalah produk-produk yang mempunyai emotional benefit yang sifatnya self expressive. 


Suatu produk bisa memenuhi 2 manfaat sekaligus, seperti misalnya kalo anda membeli jeans Banana Republic – emotional benefit yang bersifat personal adalah kalau anda memakai jeans itu anda merasa lebih macho, lebih muda tapi selain itu self expressionnya adalah anda bisa menunjukkan kepada orang lain bahwa anda berjiwa muda dan bisa bergaya dengan jeans  bermerek terkenal.

Oke Friend's sampe disini dulu Part1 : Brand Benefit, minggu depan akan saya teruskan kembali dengan pembahasan mengenai Give dari sisi price dan hider expenses.

Rabu, 29 September 2010

L Casei Shirota Strain


Yakult Lady 
Kenyang terasa hmmm, kebiasaan libur (surabaya) - bangun kesiangan trus jam 9.00 baru sarapan. Duduk-duduk (leyeh2) dibelakang rumah menjadi kebiasaan yang tidak rutin, kebetulan lagi gak ada yang diajak ngobrol - mau lihat kereta api lewat belakang rumah. Gak berapa lama ada ibu pedagang berhenti menanyakan ibu mertua :”Bu Samirah wonten”…. “wonten ten ngajeng, mlebet mawon” jawabku, “mriki mawon mas”. Karena gak enak juga ibu itu duduk di sebelah akhirnya saya ajak ngobrol aja, ternyata beliau penjual (resmi) yakult keliling – tahu sendiri kan produk ‘lama’ ini gak ada matinye. Hampir 2,5 tahun ibu 49 tahun ini bekerja sebagai Yakult Lady, sebutan untuk para Ibu – Ibu pengecer Yakult keliling. Ada total 17 orang yang bertugas di area ini untuk menjumpai konsumen dan toko kecil langsung dari kampung-kampung, ini bisa ngalahin motoris atau kanvas lho - apalagi produknya cuma 1 jenis.

Menurut saya strategi pemasaran model Yakult cukup ampuh untuk menjaga konsistensi penjualan dari persaingan produk-produk minuman kesehatan. Kenapa cukup ampuh karena konsumen tingkat bawah bisa langsung berjumpa dengan penjual (resmi): bisa mendapat informasi mengenai produk, informasi terbaru mengenai produk, menanyakan berbagai macam hal mengenai Yakult/ perusahaannya (seperti yang saya lakukan) atau memberikan masukan (atau komplain sekalipun). Walaupun ada juga penjualan ke modern market ataupun toko-toko grosir di kampung yang langsung dikirim dari gudang dengan menggunakan mobil atau motor. Lha ibu tadi naik apa? Sepeda mini man, iya ibu itu mengayuh dia area yang kurang lebih di radius 7 Km (diameter lingkaran) opo istilahnya aku juga kurang paham. 
 Keterangan gambar: gambar 1 adalah jarak tempuh Ketintang dan Wiyung tempat setor di bank BCA, gambar 2 adalah wilayah kerja Yakult Lady was i meet.

Saat duduk disebelah saya dia tidak menawarkan produknya tapi hanya berniat duduk dan kita saling bertanya, mengenai lingkungan kampung ini, keluarganya sampai kesulitannya bekerja. Mengeluh dengan Supervisor dan Staff nya yang sekarang, hanya membebani dengan target penjualan berlimpah tapi tidak ikut terjun saat penjualan turun seperti yang pernah dilakukan pendahulunya. Area kerja akan dipecah lagi namun dengan target sama, “lha yo opo mas, area arep dipecah tapi target dodolane podo. Yok nopo cara dodolane, binggung kulo”. Saya yang mendengar keluhan itu ya senyum aja serta berpura-pura mendukung kesusahannya, mencoba menjadi pendengar dan teman diskusi yang baik …..Glodak – nggletak.

Apalagi sekarang cara penyetoran penjualan berbeda, jam 13.00 harus sudah berada di Bank BCA untuk melakukan penyetoran, “kenopo mboten nyetor ten kantor mawon, cedak” tanyaku, “mboten semerap mas, kulo nggeh seneng kesel sa’jane nek setor ten BCA Wiyung”. Hahh Wiyung?? Adohe rek…fyi dari disini (Ketintang baru) ke Wiyung (daerah rumah Ibu saya) kalo naik motor bisa ditempuh cukup 10-15 menit, lha kalo naik sepeda onthel – busyet. Gak terasa 2 jempol terangkat untuk perjuanganmu membantu suami mencari nafkah. Sekitar 5-10 menit perbincangan ibu itu pun pamit untuk berjualan kembali, gak tahu nih karena simpati/ tertarik produknya atau keluarga istri suka mengkonsumsi Yakult saya pun membeli Yakult 2 slot (gak tahu apa istilahnya, pokoknya isi 5 pcs) Rp. 12.000.

Terakhir saya menyempatkan menanyakan nama (B’Irwani) dan meminta foto  untuk kenang-kenangan. Setelah itu Yakult saya taruh kulkas dan bergegas membuka situs www.yakult.co.id , ternyata ini perusahaan PMA brur…mangkanya gak ada (sulit) matinye. Trus info mengenai bakteri bermanfaat Lactobacillus casei Shirota strain jadi paham bener dan model pemasaran dengan Yakult Lady memang menjadi salah metode PT. Yakult Indonesia Persada untuk menditribusikan yakult di lingkungan sekitar. Moga yakult bisa menyehatkan masyarakat Indonesia dan salam buat all Yakult Lady diseluruh Indonesia. Hmmmm Bosnya Yakult baca Blog sing Biasane iki gak ya,,,,,,kirim yakult dongggg . Sabtu 18/09/10 9:30

Barusan Pulang

Friendship