Tampilkan postingan dengan label Qurban. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Qurban. Tampilkan semua postingan

Senin, 19 September 2016

Apa nggak ada tema lain Part 2

Sesuai janji saya, posting ini adalah lanjutan dari posting kemaren mengenai keresahan saya saat mendengarkan khotbah Idul Adha yang itu itu aja. Namun akhirnya saya belajar untuk menerima dan membagi hasil khotbah yang merubah pandangan saya tentang Idul Adha dan Qurban.

Apa yang dimana kita benar, beda di mata Allah. Apa yang kita anggap logis, beda di sisi Allah. Jadi jalankan syariat, hukum-Nya, jalani petunjuk Nabi dan tunggu rahmatnya di atas dan bawah bumi serta dari arah yang tidak disangka sangka.

Senin, 12 September 2016

Apa nggak ada tema lain untuk khotbah Idul Adha?

Sampai saat ini saya cukup bosan jika khotib Idul Adha hanya bercerita mengenai proses Nabi Ibrahim mendapat (menunggu) anaknya Nabi Ismail, meninggalkannya di padang batu tandus, melempar setan, safa marwah, air zam-zam, penyembelihan Ismail, jadi domba dan perayaan Idul Adha. Nah itu doang!

Tapi setelah dipikir pikir, kenapa saya bosan ya? ini karena sejak kecil saya mendapat cerita yang sama, dengan sedikit bumbu motivasi dan seringkali sama. Tapi setelah merenung nulis posting ini, jadi merasa nggak apa apa deh. Kenapa? Karena memang banyak anak kecil yang belum pernah atau belum memahami cerita ini.

Senin, 06 Oktober 2014

Jenggot Jelek

Saya adalah salah satu orang yang berminat untuk memanjangkan jenggot, dari saat kuliah dulu keinginan itu muncul. Ada beberapa alasan sebenarnya, tapi yang paling utama adalah Nabi melakukan dan menyarankan – sehingga jadi Sunnah.

Tapi dagu saya nih nggak tumbuh jenggot, Cuma kumis aja yang mampir. Nah kata teman teman supaya jenggot bisa tumbuh, oleskan dengan cairan dari persendian kambing. Salah satu cara untuk dapat cairan itu ya pas Idul Adha, saat prosesi pemotongan hewan Qurban. Soale gak asyik juga kalau kita ke tempat jagal kambing/sapi trus minta cairan itu…. Hadehh.

Kebetulan saat kuliah saya bergabung di lembaga dakwah kampus, dan pasti jadi panitia di tiap acara keagamaan di kampus – termasuk Idul Adha. Selama 4 tahun, saya selalu mengoleskan cairan itu ke dagu dan dada ha ha. Tapi tetep aja gak tumbuh. Saya biarkan aja lah.

Senin, 21 Oktober 2013

Kaya untuk Adha

 Minggu kemarin umat Islam merayakan hari Raya Idul Adha atau bisa di sebut hari Raya Qurban, Idul Adha sendiri memiliki arti Hari Raya Haji yang disertai dengan penyembelihan hewan Qurban. Hari Raya ini merupakan hari raya kedua bagi umat Islam setelah hari Raya Idul Fitri. Dinamakan Hari Raya Haji karena saat bersamaan ritual ibadah Haji mencapai puncak, yaitu Wukuf di Padang Arafah.

Sebenarnya udah pada tahu kalau informasi kayak ginian, iya sih... tapi ini juga untuk melatih ingatan dan kemampuan menulis saya. Siapa tahu juga ada orang yang tahu atau non muslim yang cari informasi tentang Idul Adha. Selama berpikir positif, apa yang kita lakukan akan baik baik saja kok. Tapi kalo udah perbuatan buruk tapi di paksakan positif ya pelanggaran namanya he he.

Di sini Allah menganjurkan umat Islam musti kaya, karena ada dua amalan besar yang butuh banyak biaya. Pertama perjalanan panjang ke Mekkah untuk ibadah Haji, kedua membeli hewan ternak untuk menjadi Qurban dan dagingnya di bagi ke kaum Dhuafa. Kalau kita mampu melaksanakannya, maka kewajiban itu ada di pundak kita.

Senin, 29 Oktober 2012

Tetangga Meninggal • Warga Belajar


Idul Adha kelabu, mungkin kata itu bisa mewakili kondisi tetangga saya. Sedih bercampur menyesal bekecamuk di di dalam dada dan nampak jelas di wajah sendunya. Isak tangis yang ditahan menjadi suara yang dominan di hari itu. Tetangga yang datang memberi dukungan untuk tetap kuat, untuk tetap sabar, untuk tetap ikhlas.

Siapapun tidak menyangka keluarga itu akan ditinggal oleh anaknya yang baru berusia 1 tahun 5 bulan. Saya yang hanya tetangganya aja, bukan saudara, tidak dekat dengan almarhum serta kedua orang tuanya… shock juga saat mengetahui kejadian ini.  Apalagi proses meninggalnya karena tercebur di kolam ikan milik tetangga di belakang rumahnya, sedangkan kedua orang tua dan paman almarhum lengkap ada rumah. 

Gimana gak bikin nyesek tuh, bisa ngerasain gak frend – saya awalnya juga gak bisa. Karena kalau ada berita di TV atau koran tentang kematian balita yang prosesnya hampir sama, saya hanya bisa berucap "Innalillahi wa inna illaihi rojiun".

Minggu, 14 November 2010

Berani Islam, Berani Diatur

Allah-lah yang pantas dipuji dan dipuja karena Mahaluas rahmat –Nya terhadap seluruh mahkluk-Nya. Ucapan salam dan shalawat selalu kita haturkan kepada Rasulullah Muhammad saw., sang teladan umat beserta keluarga, sahabat dan pengikut risalah beliau yang setia.


Dulu saya sempat membaca Majalah Donatur YSDF (Yayasan Dana Sosial Al Falah) Al Falah, yang membahas mengenai peringatan Idul Adha dan saya tertarik dengan judul salah satu artikelnya yaitu Berani Islam, Berani Diatur yang ditulis oleh Redaksi (tidak ada namanya). Karena saat ini momennya juga hampir sama maka Blog Sing Biasane akan mengintisarikan tulisan tersebut dengan judul yang sama.

Pada dasarnya setiap manusia ingin hidup bebas didunia ini, ada yang bilang bebas mengikuti kata hati. Tanpa harus bertanggung awab kepada siapapun dan –yang paling penting sekaligus tidak mungkin- akibat perbuatan kita selalu menyenangkan. Begitulah jika kita mengikuti hawa nafsu.


Seorang muslim tidak bisa hidup semau gue. Sebab Islam sendiri punya makna tunduk atau patuh. Jadi seorang muslim harus siap diatur oleh Allah Swt., yang Mahatahu. Bahkan kita belum dianggap beriman jika hawa nafsu tidak tunduk pada islam. Rasulullah saw. Bersabda. “Tidak beriman seorang diantara kalian sebelum hawa nafsunya mengikuti ajaran yang aku bawa” (hadits shahih dari kitab Al Hujjah).

Blog Sing Biasane mengajak rizalarable, anda dan kita untuk menghitung kembali tingkat kepatuhan kita terhadap ajaran Islam. Salah satu hikmah Idul Adha atau Idul Qurban adalah menyerahkan diri untuk patuh  kepada perinta Allah. Ini yang dicontohkan Nabi Ibrahim as., sebagai orang yang mencintai dan dicintai Allah Swt. Karena kepatuhannya, Ibrahim as., mendapat gelar Khalilullah ‘kekasih Allah’ (QS. An Nisa 125). Sebuah derajat yang begitu mulia bagi seorang hamba.......  

Winston Churchil juga berkata: "Kita hidup dari apa yang kita dapatkan. Kita kreasikan hidup dari apa yang kita Berikan". Mari kita kreasikan hidup dengan memberi waktu, pikiran, tenaga, perhatian, sumber daya, untuk hal penting dan bermanfaat untuk diri sendiri dan orang lain. Karena apa yang kita lihat, dengar, rasakan, mengenai kehidupan kita, adalah apa yang kita kreasikan sendiri" dari Hingdranata Nikolay (Pakar NLDP).

Dalam rangka mempersiapkan diri menyambut Idul Qurban, menurut anda apa yang harus kita siapkan??

Monggo dipilih hadiah ebook yang anda inginkan dan tulis alamat email anda di kolom komentar
Yajuj Majuj
Nabi Isa
Hamas

Barusan Pulang

Friendship