Tampilkan postingan dengan label tantangan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label tantangan. Tampilkan semua postingan

Senin, 07 Januari 2013

Bangkit Berjaya


Syipp #ligabloggerindonesia yang diselenggarakan oleh DotSemarang di mulai lagi, 3 bulan kedepan akan coba lalui posting demi posting, tantangan demi tantangan, BW tiada henti. Walaupun di periode trial (Oktober) saya di peringkat 16 ehmm gpp lah, lumayan lah buat pengalaman. Meskipun periode dulu banyak kecewa dengan admin, tapi tak urungkan niat untuk ikut lagi.

Semua orang pasti berubah - setiap orang pasti bergerak, yang tidak berubah adalah perubahan itu sendiri. Semangat tetap tinggi untuk mencapai hasil yang lebih baik, orang boleh kehilangan hartanya, tahtanya, apapun, asal jangan kehilangan semangatnya. 

Berbicara mengenai semangat, Direktur kami pernah menyampaikan bahwa untuk bisa tetap semangat salah satu caranya adalah dengan tetap bersyukur. Apa pun yang terjadi, kita wajib menerima. Karena pada hakekatnya apapun yang Alloh berikan, itulah yang terbaik buat kita menurutNya.

Minggu, 23 Oktober 2011

Langsung ke TKP

TKP apa nih??....ini bukan kriminal lho, TKP yang ennih bukan sembarangan tapi Tempat Kejadian Patriotisme. Tahu sendiri patriotisme sekarang hanya jadi makanan abdi Negara khususnya Polisi dan Tentara, hmmm Polisi agak enggak juga kali ya. Saya kini mencoba mereportase hasil pantauan kejadian kecil mengenai Patriotisme yang akan di jlentrehkan di Blog Sing Biasane.

NKRI harga mati!!! Itulah semboyan yang tertulis di salah satu tembok Markas Batalyon Arhanudse 13 Dam I/BB di Pekanbaru Riau yang kebetulan dekat rumah saya. Mungkin banyak lagi slogan yang sama di Markas-markas TNI di wilayah lain, karena memang salah satu tugas TNI adalah menjaga keutuhan NKRI.

Tapi apakah memang hanya tugas TNI? Sebagai warga negara dan bangsa harusnya menjaga keutuhan NKRI menjadi tanggung jawab setiap rakyat. Dan kita sebagai WNI jangan segan dan malu untuk berusaha dengan gigih melakukannya walaupun dalam hal kecil ataupun sedikit. Pelaksanaannya pun sebenarnya perlu pembiasaan dan role model, maksudnya sebagai WNI sebisa mungkin melakukan aktivitas cinta Negara dan mencontohkannya ke orang lain – khususnya orang terdekat kita.

Seperti yang saya tengok di TKP, salah satu Taman Kanak-kanak Islam di Jl. Kelapa Sawit Pekanbaru Riau – ‘Dayyinah Kids’, anak-anak usia dini sudah dikenalkan dengan Upacara Bendera, menyanyikan lagu-lagu perjuangan (kemerdekaan), diberi wawasan kebangsaan, menghormati bendera merah putih sebagai simbol negara - dan lebih meriah saat Hari Kemerdekaan 17 Agustus. Hal yang sepele sebenarnya…….. itu kalo anda melihat sekilas atau sambil lewat, tapi bagi saya yang menyaksikan dari awal hingga akhir – kagum#.

Minggu, 16 Januari 2011

Atasanku menantang untuk Korupsi

Once upon a time at meeting room, atasan menantang saya …..eng ing enggg. Nantang apaan nih, tarung zal?  enggak lah: beliau meminta saya untuk menulis mengenai budaya korupsi yang makin parah – apalagi saat ini sedang hangat-hangatnya Gayus pelesiran ke luar negeri. Di satu sisi saya senang cos atasan saya pastinya telah mengunjungi Blog Sing Biasane (BSB) ini, di sisi yang lain saya tertekan untuk merealisasikannya. Ini masalah kepercayaan dan integritas saya sebagai owner, karyawan dan sebagai masyarakat di perumahan saya…..diengg.
 

Beliau bicara “apakah dengan menaikkan gaji pegawai, bisa menurunkan tingkat korupsi”, Sule bicara “oh, tidak bisa”, saya bicara “hempk….mana saya tahu??”. Gak siap nih nulis tema ini - but tetap harus dicoba, cos selama ini posting di BSB aja banyak juga yang dadakan. “Bahas dengan pengertian/ bahasa yang ringan-ringan aja” ucap beliau, wah itu BSB banget : Sederhana dan biasa aja.

Budaya korupsi bisa jadi salah satu penyebab terjadinya kemunduran dan keterbelakangan suatu masyarakat. “Sebuah bangsa akan hancur ketika moralitasnya hancur”, tegas penyair Arab, Syaiquni Beik. Persoalan korupsi di Indonesia ibarat sebuah lingkaran setan yang tidak ketahui ujung pangkalnya, dari mana mengurainya dan bagaimana mencegahnya. Korupsi sudah menjadi bagian dan budaya masyarakat dan telah melibatkan hampir semua orang dan kian merajalela.

Kita mengangap setiap orang-orang di pemerintahan semuanya pasti telah melakukan korupsi, apalagi di masa pemerintahan Suharto. Yang namanya KKN ada dimana-mana, mungkin saat pemerintahan Suharto itu kali – dimulainya praktek korupsi.  Dan kita mengangap juga dengan mengganti pemimpin tertinggi, semua permasalahan (termasuk korupsi) akan bisa diselesaikan. Kita sibuk mencari dan memilih pemimpin yang adil, jujur, tegas, bersih, putih, mengkilap…haiyah tapi sebagai rakyat, masyarakat dan pribadi kita masih menerapkan pola-pola korupsi di kehidupan sehari hari. Yang jualan mengurangi timbangan, polisi tidak menyetor sanksi tilang, yang kerja menambah jam istirahat, pegawai pulang lebih awal, dkk.

Lha terus mengapa koruptor tdak merasa bersalah? .,…………. Hal ini mungkin dikarenakan banyak orang yang melakukannya, berarti sesuatu yang biasa dan kebiasaan itu kemudian menciptakan hak. Jika satu dituntut, semua harus bertanggung jawab. Kalau semua bertanggung jawab bukankah sama dengan tidak ada yang bertanggung jawab? Bener kan.

Persis seperti tindakan penjarahan atau pembunuhan yang dilakukan banyak orang. Dengan melakukan beramai-ramai seolah-olah tindakan itu sah karena semua ikut, untuk kepentingan umum. Siapa yang berani melawan kepentingan umum? Alasan banyak orang yang melakukan -  dijadikan alibi tanggung jawab pribadi dan menjadikan kejahatan menjadi hal biasa. Dan akhirnya kebiasaan jahat membungkam hati nurani.

Free Download

Barusan Pulang

Friendship